oleh

Inovasi Media Kreatif dalam Revolusi Industri 4.0

Transformasi sistem revolusi industri 4.0 mempengaruhi esensi pengalaman kemanusiaan, kata Dudi Amrullah dalam Seminar Nasional Teknologi Cetak dan Media Kreatif di Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta (25/7/19). Dalam industri media cetak kemasan, esensi kemanusiaannya, tidak ada yang dapat mengetahui, waktu yang pas sebagai ucapan selamat tinggal terakhir,” tambah pemakalah utama bertajuk “Inovasi dalam Industri 4.0”.

Dudi mengilustrasikan masa jaya Coca-cola Indonesia berlangsung enam tahun (1997-2003), Coca-cola Amatil lima tahun (2003-2008), namun Danone Aqua sejak 2008 tetap berkembang membuat diversifikasi usaha bernama Vit sampai sekarang. “Di dunia baru itu bukan ikan besar yang memakan ikan kecil, melainkan ikan cepat yang memakan ikan lambat,” tegas Dudi mengutip Klaus Schwab seraya menggambarkan industri 4.0 berawal pada akhir abad ke-18 berupa mekanisasi, tenaga air, tenaga uap. Revolusi industri kedua pada produksi massal, assembly line, listrik. Ketiga mulai abad ke-20 melalui komputer dan otomatisasi, hingga revolusi keempat saat ini melalui sistem siber.

Dampak industri 4.0 dalam kehidupan di Tanah Air tampak pada efisiensi dan efektivitas produksi, pertumbuhan ekonomi dan inklusi sosial, energi, makanan, keamanan dan pertanian, pendidikan, gender dan pekerjaan, lingkungan dan sumber daya alam, mobilitas, sistem keuangan dan moneter, informasi dan hiburan, layanan kesehatan, perdagangan dan investasi internasional, dan konsumsi.

Dinamika kompetisi pemasaran saat ini tampak pada munculnyausaha rintisan Tokopedia, Blibli, Alfa dan Indomaret, Zalora, Gojek. “Semua aktivitas perdagangan rintisan bagi generasi milenial menjadi mudah melalui pesanan dan jasa pengiriman online,” tambah Dudi yang mengurai digital ages dengan menambahkan masing-masing orang muda bersosialisasi di jejaring sosial sejak tahun 2000 sampai sekarang, “Indonesia memiliki populasi terbesar kedua di Facebook.”

Dalam menutup sesi pembicara utama yang menginspirasi dan memotivasi, Dudi menggarisbawahi, kompetisi pemasaran industri cetak kemasan itu bukan yang terkuat yang bertahan hidup, tidak juga yang paling cerdas, tetapi yang paling responsif terhadap perubahan.

Sementara itu, industri dengan pertumbuhan tinggi (2018) menurut Edi Siswanto, terletak pada industri mesin dan perlengkapan (9,49%), industri kulit dan alas kaki (9,42%), industri logam dasar (8,99%), industri tekstil dan produk tekstil (8,73%), industri makanan dan minuman (7,91%).

Sejak 2003 negara-negara dengan standar pengemasan modern, seperti Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Jerman, Jepang, Korea dan China memiliki tujuan ekspor usaha produk makanan Indonesia. Klinik pengembangan desain kemasan dan merek melalui Ditjen Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA)tahun 2003-2018 memfasilitasi desain kemasan (7.565 IKM), desain merek (8.119 IKM), dan 411 IKM bantuan kemasan cetak. Ditjen IKMA tahun 2019, kata Edi, memfasilitasi 400 desain kemasan dan 600 desain merek. IKM Go Digital 2019dengan total peserta e-smart mencapai 9.000 IKM,” tegasnya.

Seminar nasional ini bertujuan memperkenalkan hasil riset dosen, mahasiswa, praktisi industri cetak kemasan, dan media kreatif, serta menjalin jejaring akademik yang memperkuat penelitian dan pendidikan teknologi cetak kemasan dan media kreatif di Indonesia. Lingkup kajian seminar meliputi empat program studi, seperti desain grafis (desain kemasan, desain identitas visual, desain media promosi, desain board game), kajian jurnalistik (konvergensi media, start up media, cyber crime media, media massa dan usaha mikro kecil dan menengah, pluralisme ekonomi digital), kajian teknik grafika dan kemasan (supply chain kemasan, teknologi cetak dan digital printing, security printing). “Kami berharap seminar nasional ini menjadi inspirasi untuk perkembangan teknologi cetak kemasan dan media dalam membangun industri kreatif Indonesia serta bermanfaat bagi perkembangan kajian teknologi kemasan dan media kreatif,” ujar Wiwi Prastiwinarti, Ketua Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan (Jurnalistik) dalam sambutannya.

Seminar Nasional ini menampilkan dua pembicara utama, Edi Siswanto, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka, dan Dudi Amrullah, Direktur Pengemasan dan Risiko Pengamanan Pangan Danone Indonesia. Sesi seminar dilanjutkan seminar Call for Paper diikuti oleh 144 presenter. “Kami menerima 144 artikel lengkap dalam bidang teknik cetak, kemasan, desain grafis dan jurnalistik, yang sampai saat ini masih dalam proses review,” kata Muryeti, Ketua Panitia Seminar Nasional 2019 seraya menambahkan, “artikel lengkap akan diterbitkan dalam prosiding  dan jurnal online Seminar Nasional Teknologi Cetak dan Media Kreatif.

(Djony Herfan, Adhita Diansyavira)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed