oleh

Mengenal Tinta Lewat Kulum

DEPOK | Dialog Rakyat | Depok – Program Studi Teknik Industri Cetak Kemasan, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan (TGP), Politeknik Negeri Jakarta mengadakan kuliah umum (kulum) dengan tema “Tinta Rotogravure Pada Flexible Packaging” di Aula Gedung Z. Juga mendatangkan pembicara yang berpengalaman pada dunia tinta cetak. Selasa, (12/11).

Rita Suzana Direktur Operasional PT Hi-Tech Ink Indonesia, memaparkan materi mengenai tinta cetak rotogravure (cetak dalam).“Rotogravure sekarang luas sekali. Untuk ke depannya pun cetak flexography (cetak tinggi) bukan lagi di kertas tapi di plastik,” kata Rita saat memaparkan materinya.

Rita juga menjelaskan mengenai komposisi tinta yang harus sesuai, jika dalam prosesnya tidak sesuai maka hasilnya tidak akan baik. Dalam pembuatan tinta selalu menggunakan pigment untuk pewarnaan.

Jenis pigment ada lima, yaitu pigment organik, pigment an-organik, bronze powder, silver, dan pigment deys. Dari kelima jenis pigment di atas, Rita lebih menegaskan penggunaan pigment organik dan an-organik.

“Pigment organik tidak boleh bersentuhan langsung dengan makanan karena bukan terbuat dari bahan alami, tetapi dari pembakan hasil sisa minyak bumi,” Rita menjelaskan dengan tegas karena masih banyak masyarakat di Indonesia yang belum mengetahuinya. Kebanyakan dari mereka menyangka pigment organik terbuat dari bahan-bahan alami, seperti tumbuh-tumbuhan dan buah.

Setara dengan perkembangan 4.0 kebutuhan cetak tinta kini memerlukan teknologi canggih dalam produksinya. Di Indonesia, perkembangan teknologi cetak tinta belum dikatakan pesat karena hanya ada beberapa perusahaan saja yang mempunyai teknologi canggih, kecepatannya bisa mencapai 450 m – 700 m per menit.

Indonesia juga mempunyai teknologi buatan sendiri, tapi kecepatannya hanya 200 m – 300 m per menit yang penggunaannya untuk pembuatan majalah. Bahan-bahan pembuatuan tinta masih mengandalkan impor. “Dari Indonesia belum ada bahan baku tinta. Semuanya dari luar,” ujar Rita yang memakai baju putih dan celana putih serta rambut yang terkuncir.

Saat pemaparan materi ia mengatakan, “Tidak ada industri yang spektakuler. Tapi di sini, kalau pun sepi yaa ngga sepi-sepi banget. Selama manusia masih pakai industri (cetak tinta) ini, percetakan tidak akan ditinggalkan.” (Anita Rahin/Politeknik Negeri Jakarta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed