Dialog Rakyat | Kebanyakan orang pasti mengira bahwa emosi itu ialah suatu perilaku negative ataupun tindakan amarah yang muncul dari seseorang, padahal pengertian tersebut memiliki arti yang cukup keliru. Terkadang emosi yang tak menentu ini membuat kita bingung, jika sedang dalam emosi yang baik rasanya hidup ini penuh kebahagiaan namun jika sedang dalam emosi yang buruk dapat membuat kita gampang marah hanya karena masalah sepele.
Terus, apakah pengertian emosi yang ada disetiap orang?
Yuk mari kita bahas, terdapat sebuah penelitian yang menyatakan bahwa emosi mengarah pada hal-hal yang membuat kecenderungan untuk bertindak. Sehingga emosi merupakan reaksi yang timbul akibat adanya rangsangan ataupun stimulus dari luar dan dalam pada setiap orang yang tentunya disesuaikan dengan kondisi psikologis dari orang tersebut. Terlebih, emosi juga merupakan suatu hal yang wajar untuk ada disetiap orang, dengan adanya emosi ini dapat membuat kita leluasa dalam menyampaikan ekspresi atau persepsi yang ada didalam pikiran menjadi suatu tindakan. Bahkan, emosi secara umum terbagi menjadi dua yaitu emosi yang positif dan emosi yang negatif.
Emosi positif ialah respon yang timbul akibat adanya stimulus atau rangsangan dalam konteks hal yang positif. Sedangkan, emosi negatif merupkan respon yang timbul disebabkan dari stimulus atau rangsangan dalam konteks hal yang negatif seperti marah, benci ataupun jijik.
Dalam hal ini, emosi yang patut diberikan perhatian yang lebih ialah emosi negatif, karena saat kita mengalami emosi yang negatif tentunya tingkah laku kita berubah bahkan sulit untuk dikendalikan, seperti dapat munculnya tindakan marah berlebihan, melukai diri sendiri atau orang lain, dan juga mengganggu suasana hati sehingga membuat kita mudah merasa cemas bahkan setress.
Dunia kerja pun membatasi atau mengatur emosi seseorang, sehingga emosi yang ditampilkan (displayed emotion) seorang pegawai sangat dimungkinkan berbeda dengan emosi yang dirasakan (felt emotion) karena tuntutan profesi. Misalnya: Seorang customer service pada bank, ia akan selalu menampilkan wajah ceria, senyum dan bersifat melayani ketika berhadapan dengan nasabah, meskipun pada saat itu ia sedang sedih dan kecewa. Perawat di rumah sakit tidak mungkin akan membentak atau memarahi pasien yang rewel, meskipun yang ia rasakan adalah perasaan jengkel. Kondisi tersebut menurut Robbins dan Judge (2015) dikatakan sebagai disonansi emosi (emotional dissonance).
Apakah kita akan marah-marah atau mengungkapkan emosi kita? Tentu saja tidak. Di samping sikap tersebut akan menimbulkan perasaan tidak nyaman dan kaku, konflik interpersonal sangat mungkin akan muncul.

Lingkungan kerja adalah tempat berkumpulnya individu-individu dengan kepribadian yang berbeda sehingga level emosi yang ditampilkan oleh tiap orang bisa sangat berbeda. Beragamnya tugas dan pekerjaan yang ada di tempat kerja juga mendorong munculnya emosi pada pegawai. Stress di tempat kerja, konflik dan pertikaian kadang menjadi peristiwa yang tak terhindarkan.
Karenanya, setiap organisasi mempunyai nilai-nilai dalam bersikap dan berperilaku di tempat kerja, entah itu berupa norma, peraturan ataupun budaya organisasi. Biasanya sesuatu yang tidak tertulis secara eksplisit dalam bentuk peraturan akan menjadi sebuah norma dan budaya dari organisasi tersebut, di mana setiap anggota organisasi diharapkan memahami norma dan budaya yang berlaku di tempat kerja. Norma, peraturan dan budaya tersebut berfungsi sebagai pedoman bagi anggota yang ada di dalamnya tentang tuntutan sikap dan perilaku yang sesuai, termasuk bagaimana menampilkan emosi di tempat kerja.

Ekspresi emosi seseorang pada tingkat yang relatif tinggi, terutama emosi negatif, di samping akan membuat kurang nyaman orang lain, hal tersebut memberikan dampak negatif pada lingkungan kerja. Reaksi yang beragam akan muncul ketika individu merasakan adanya emosi negatif dengan level yang tinggi di lingkungan kerjanya. Rasa tidak enak, takut atau jengkel akan dirasakan seseorang.
Bahkan pada individu yang tergolong sensitif akan merasakan jantungnya berdetak lebih kencang atau berdebar saat melihat orang lain marah. Emosi pada tingkat yang tinggi dianggap tidak wajar ketika ditampilkan di tempat kerja, karena lingkungan kerja idealnya adalah lingkungan di mana orang-orang yang ada di dalamnya mempunyai tingkat emosi yang relatif stabil dan seragam. Emosi positif atau negatif akan dirasa kurang etis ketika ditunjukkan secara berlebihan. Tertawa terbahak-bahak yang identik dengan emosi positif yang tinggi, juga kurang pantas ditampilkan di tempat kerja; apalagi emosi negatif, seperti marah, berteriak, membentak atau tingkat depresi yang tinggi.
Konseling terhadap pegawai dengan level emosi tinggi biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang peduli dengan pegawai mereka. Dialog empat mata seringkali dilakukan untuk mengingatkan kembali pegawai tentang etika, norma, peraturan dan budaya yang berlaku.
Dari konseling tersebut, akan diperoleh jawaban mengapa pegawai dengan emosi tinggi sering menampilkan emosinya dan kondisi apa yang membuat pegawai tersebut mengekspresikan emosi dengan level tinggi. Pada kesempatan tersebut disampaikan pula dampak negatif ketika emosi tinggi ditampilkan di tempat kerja. Dengan pendekatan interpersonal yang baik, dimungkinkan konseling tersebut mampu mengatasi permasalahan emosi tinggi di tempat kerja.
Penulis : Angelika Agustina Silaban (191011201715), Maria Febryanti Hale (191011200608).






Komentar