Permainan Kelereng (Ekar) Tetap Diminati di Desa Babat, PALI

PALI | Dialograkyat.com – Permainan tradisional kelereng yang akrab disebut ekar di Sumatera Selatan, khususnya Palembang dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), masih tetap bertahan di tengah gempuran teknologi modern.

Di sejumlah daerah, permainan ini memiliki beragam sebutan. Umumnya kelereng dibuat dari bahan kaca atau tanah liat dengan ukuran sekitar 1,25 cm, meski ada juga yang berukuran lebih besar hingga tiga kali lipat dari kelereng biasa.

Seiring perkembangan teknologi, khususnya hadirnya smartphone yang menawarkan berbagai permainan digital, popularitas permainan tradisional seperti kelereng kian meredup, terutama di kota-kota besar. Namun berbeda dengan di pedesaan, misalnya di Dusun 3 Handayani, Desa Babat, Kecamatan Penukal, PALI.

Bagi masyarakat setempat, permainan kelereng masih menjadi hiburan favorit yang digemari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka menjadikannya bukan sekadar permainan, melainkan juga ajang kebersamaan dan kompetisi.

Andre, warga Dusun 3 Handayani yang mengaku sebagai penggemar berat permainan ekar, menuturkan bahwa permainan ini rutin dimainkan setiap sore, sekitar pukul 16.00 hingga 17.30 WIB.

“Dari dulu permainan tradisional kelereng (ekar) di sini sangat diminati masyarakat, meski sekarang sudah banyak teknologi canggih,” ujarnya, Rabu (27/8/2025).

Menurutnya, permainan kelereng memiliki banyak manfaat.

“Selain melatih kesabaran dan mengatur emosi, permainan ini juga bisa menambah kemampuan berpikir, mempererat sosialisasi, sekaligus menumbuhkan semangat berkompetisi,” kata Andre.

Hal senada disampaikan Yayan, warga lainnya. Ia menilai permainan kelereng sederhana namun tetap seru.

“Cara mainnya cukup mengenai sasaran kelereng lawan. Tidak butuh alat khusus, hanya lapangan bersih saja. Sensasinya berbeda dengan permainan di gadget,” ungkapnya.

Yayan menambahkan, di Dusun 3 Handayani permainan kelereng memiliki beberapa variasi, seperti panahan dan pot-potan. Bahkan, dalam satu pertandingan bisa melibatkan 5–10 orang pemain.

Amel, pemain lainnya, menyebut permainan ekar tidak hanya dimainkan anak-anak, tetapi juga digemari orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.

“Permainan ini ibarat sebuah pertarungan kecil, siapa pun bisa ikut asalkan punya modal kelereng. Seru sekali karena semua ikut berpartisipasi,” katanya.

Meski arus modernisasi semakin kuat, permainan tradisional kelereng terbukti masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Babat, PALI. Tradisi ini terus dijaga sebagai warisan budaya sekaligus sarana hiburan yang penuh nilai kebersamaan. (Jon)

Komentar