Oleh: Ndo Listiadi Martin Prajo Setyo, S.Sos,MM
Marga Danau Tanah Betuah. Sebuah ungkapan yang bukan sekadar slogan, melainkan cerminan identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Julukan tersebut sangat pantas disematkan kepada Pedamaran karena daerah ini merupakan benteng terakhir keberlangsungan budaya dan adat istiadat Suku Penesak yang hingga kini masih terjaga dengan baik.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, masyarakat Pedamaran masih memegang teguh nilai-nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur. Tradisi, norma sosial, serta kearifan lokal yang menjadi bagian dari Adat Marga Danau tetap hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, eksistensi adat tersebut telah mendapat pengakuan dari negara sebagai bagian dari kekayaan budaya yang harus dilestarikan.
Keberhasilan menjaga warisan budaya ini tentu tidak terlepas dari peran aktif Lembaga Adat Marga Danau (LAMD) yang selama ini menjadi garda terdepan dalam melestarikan adat dan tradisi. LAMD terus berupaya memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar mereka memahami akar sejarah dan identitas daerahnya. Upaya ini menjadi sangat penting karena generasi milenial dan generasi berikutnya adalah pewaris yang akan menentukan apakah warisan budaya tersebut tetap hidup atau justru perlahan hilang ditelan zaman.
Masyarakat Pedamaran saat ini tidak hanya tinggal di kampung halaman. Mereka telah tersebar di berbagai provinsi, kabupaten, dan kota di seluruh Indonesia. Banyak yang merantau untuk menempuh pendidikan, bekerja, maupun membangun usaha. Namun demikian, ikatan emosional dengan tanah kelahiran tetap kuat. Hal itu terlihat setiap kali Hari Raya Idul Fitri tiba. Ribuan perantau pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga besar, mempererat silaturahmi, dan mengenang kembali akar budaya yang membesarkan mereka.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Pedamaran bukan hanya sebuah wilayah administratif, melainkan rumah besar yang menyatukan masyarakat Marga Danau di mana pun mereka berada. Semangat kebersamaan dan gotong royong yang diwariskan oleh leluhur masih hidup dalam hati masyarakatnya.
Berangkat dari semangat tersebut, Lembaga Adat Marga Danau menggagas sebuah gerakan sosial bernama Gerakan Seribu Danau (GSD). Program ini mengajak seluruh warga Pedamaran, baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan, untuk berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan melalui donasi sukarela.
Gerakan ini lahir dari keyakinan bahwa kekuatan terbesar sebuah masyarakat bukan terletak pada besarnya harta yang dimiliki, melainkan pada kepedulian dan kebersamaan yang mampu diwujudkan dalam tindakan nyata. Karena itu, Gerakan Seribu Danau mengusung semangat sederhana namun penuh makna: “Satu Donasi, Berjuta Harapan.”
Seribu rupiah mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Nilainya mungkin tidak cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup saat ini. Namun ketika ribuan bahkan puluhan ribu warga Pedamaran bergerak bersama, nilai yang kecil itu akan berubah menjadi kekuatan besar yang mampu membantu mereka yang membutuhkan.
Tidak ada donasi yang terlalu kecil jika diberikan dengan niat tulus. Sebab sejatinya, yang terpenting bukanlah besaran nominalnya, melainkan rasa kepedulian yang menyertainya. Dari seribu rupiah yang disisihkan, lahir harapan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan, lahir semangat kebersamaan, dan tumbuh rasa memiliki terhadap sesama warga Marga Danau.
Gerakan Seribu Danau juga menjadi bukti bahwa pelestarian adat tidak hanya diwujudkan melalui upacara atau simbol budaya semata. Nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur, seperti gotong royong, solidaritas, dan kepedulian sosial, harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, adat bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan kekuatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat masa kini.
Sudah saatnya seluruh warga Pedamaran, di mana pun berada, mengambil bagian dalam gerakan ini. Tidak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi. Tidak perlu menunggu memiliki kelebihan yang besar untuk membantu sesama. Sebab setiap kontribusi, sekecil apa pun, akan menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.
Mari bersama-sama menjaga warisan budaya Marga Danau sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial melalui Gerakan Seribu Danau. Karena ketika ribuan tangan bergandengan, tidak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul bersama.
Satu Kebaikan Kecil, Dampak Besar untuk Banyak Orang.
Gerakan Seribu Danau: Bersama Membantu Sesama, Bersama Menjaga Warisan Leluhur. (***)






Komentar