PALI | Dialograkyat.com — Pagi yang cerah saat matahari belum tinggi, tangan cekatan Hermanila sudah sibuk memetik tanaman herbal di kebun samping rumahnya. Jahe, kunyit, daun kelor, bunga telang, rosella, bawang Dayak, temulawak hingga Centella asiatica tumbuh subur dan menjadi bagian dari keseharian warga Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, Senin (13/4/2025).
Keterbatasan akses dan biaya pengobatan membuat Hermanila bersama warga setempat akrab dengan tanaman herbal. Mereka memanfaatkan tanaman obat keluarga (TOGA) sebagai solusi menjaga kesehatan secara mandiri.
Namun, potensi besar tersebut sebelumnya belum dikelola secara optimal. Warga hanya memanfaatkan tanaman yang tumbuh di sekitar pekarangan tanpa budidaya yang terarah, akibat keterbatasan pengetahuan dan pendampingan.
Melihat peluang tersebut, Pertamina EP (PEP) Adera Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, melalui hasil pemetaan sosial, menggagas program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA).
Program ini memberikan pendampingan kepada warga, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT) Selaras Alam, dalam mengelola dan mengembangkan tanaman herbal secara lebih produktif dan bernilai ekonomi.
Melalui PERMATA, anggota KWT Selaras Alam dibekali pengetahuan tentang pengolahan herbal yang higienis, teknik pengeringan yang tepat, hingga pengembangan produk kesehatan alami berbasis hasil kebun.
Kini, Hermanila bersama anggota kelompok lainnya membudidayakan tanaman herbal di kebun desa yang dikelola secara kolektif.
Untuk mendukung produktivitas, PEP Adera Field juga menyediakan fasilitas greenhouse guna mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, serta dry house sebagai tempat pengeringan hasil panen. Tak hanya itu, sistem irigasi tetes (drip irrigation) turut diterapkan untuk memastikan kebutuhan air tanaman terpenuhi secara efisien.
Berkat pendampingan tersebut, pemanfaatan TOGA kini tidak lagi sekadar untuk kebutuhan konsumsi pribadi, tetapi juga berkembang menjadi produk bernilai jual.
“Dulu kami hanya menanam dan memanfaatkan seadanya. Sekarang kami lebih paham bagaimana menjaga kesehatan dari apa yang kami tanam sendiri,” ujar Hermanila.
Budidaya tanaman herbal ini terbukti mampu menekan pengeluaran biaya kesehatan rumah tangga hingga sekitar 30 persen per bulan. Bahkan, kelompok ini telah mampu memproduksi berbagai olahan herbal, seperti sirup rosella, ramuan instan, dan tisane herbal.
Dari sisi ekonomi, peningkatan juga signifikan. Pendapatan anggota KWT Selaras Alam yang sebelumnya sekitar Rp1,5 juta per bulan, kini meningkat menjadi Rp4,2 juta per bulan.
“Rasanya lebih tenang karena kami bisa lebih mandiri untuk keluarga kami,” tambah Hermanila.
Sementara itu, Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa program PERMATA merupakan wujud komitmen perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Menurutnya, program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat terhadap pentingnya kemandirian kesehatan.
“Melalui PERMATA, warga diajak memahami bahwa menjaga kesehatan tidak selalu harus bergantung pada fasilitas besar, tetapi bisa dimulai dari apa yang mereka tanam dan konsumsi setiap hari,” ungkap Iwan.
Saat ini, program PERMATA telah melibatkan sekitar 60 penerima manfaat aktif, dengan lebih dari separuhnya merupakan perempuan yang berperan sebagai motor penggerak di tingkat keluarga dan komunitas.
Iwan menambahkan, program ini juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) melalui penyebaran praktik pertanian sehat dan pemanfaatan herbal ke masyarakat yang lebih luas di luar kelompok inti.
Program PERMATA pun menjadi bukti bahwa dari pekarangan sederhana, kemandirian kesehatan dan peningkatan ekonomi masyarakat dapat tumbuh secara berkelanjutan. (Jon)













Comment