Gelombang Panas di Asia Tenggara Semakin Ekstrem

JAKARTA | Dialog Rakyat | Gelombang panas yang sedang terjadi begitu mematikan. Kawasan Asia Tenggara masih terus bergulat dengan cuaca panas yang brutal, khususnya di Thailand, Myanmar, Singapura, Filipina dan Malaysia.⁠

Sepanjang tahun ini saja, Kementerian Kesehatan Malaysia telah mencatat sebanyak 14 warga yang mengalami heatstroke. Kondisi ini ditandai oleh peningkatan suhu tubuh berlebihan yang menyebabkan munculnya gejala-gejala seperti sakit kepala dan mudah lelah akibat kepanasan. Dua orang anak asal Negeri Jiran, salah satunya baru usia 19 bulan, dikabarkan meninggal dunia karenanya.⁠

Pada 13 Mei 2023, Singapura melaporkan suhu tertinggi 37 derajat celcius. Suhu ini menyamai rekor yang tercatat 40 tahun silam. Sementara itu di Bangkok, ibu kota Thailand, suhu panasnya mencapai 41 derajat.⁠

Sisa-sisa seekor ikan tergeletak di bagian Sungai Loire yang kering di Prancis bagian barat. (gettyimages)

Indonesia juga mengalami kenaikan suhu, namun bukan karena gelombang panas. Cuaca panas yang kita hadapi saat ini disebabkan oleh adanya gerak semu matahari, yang menandakan masuknya musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan suhu panas berpotensi terjadi hingga Oktober mendatang.⁠

Pakar menduga 2023 akan menjadi tahun terpanas sepanjang masa, dan mencapai puncaknya pada Agustus. Saking panasnya udara belakangan ini, para petani di berbagai daerah mulai khawatir akan menghadapi bencana kekeringan.⁠

“Dampak cuaca panas ekstrem paling dirasakan penduduk miskin, karena mereka tidak punya fasilitas untuk menghindari cuaca panas. Fenomena ini bahkan dapat mengancam jiwa,” terang Fahad Saeed, pemimpin regional Asia Selatan dan Timur Tengah di lembaga nonprofit Climate Analytics.⁠

“Suhu Bumi sudah meningkat 1,2 derajat celsius. Jika upaya penurunan emisi [gas rumah kaca] tak kunjung dilaksanakan, fenomena cuacanya bisa semakin parah.

Komentar